Menurut laporan Ackermann, proses penjalanan batin seorang Mualaf di Jerman umumnya sama; mereka adalah penganut Kristen, yang menemukan kebingungan tentang ajaran agamanya. Setelah mencari di banyak keyakinan, hati mereka tertambat pada Islam.
"Memang ada beberapa ajaran yang membuat penganutnya malah jadi ragu dengan kebenaran ajaran itu," ujar Mohammed Herzog, imam di Masjid Berlin yang sebelumnya adalah seorang pendeta. Ia sendiri pernah mengalami kebuntuan pemikiran, sampai akhirnya menemukan Islam tahun 1979.
Ia mengakui, jumlah mualaf di Jerman kini berlipat. Satu dasawarsa lalu, jumlah mualaf baru di Masjid Berlin paling hanya 10 orang pertahun. "Kini jumlahnya lebih dari dua kali lipatnya," ujar Herzog. Sebagian penganut baru Islam adalah orang-orang seperti Luhr, dan sebagian lagi adalah ateis.

Muhammed Herzog - Imam Mesjid Berlin
imageSebuah kajian mengenai kehidupan Muslim di Jerman menunjukkan fenomena pindah agama di kalangan masyakarat kelas menengah Jerman yang angkanya cukup mencengangkan. Kendati media "rajin" memberitakan tentang terorisme yang dikaitkan dengan Islam, kekerasan dalam rumah tangga Muslim, dan bom bunuh diri, namun sedikitnya 4.000 warga negara Jerman menjadi Muslim antara bulan Juli 2004 hingga Juni 2005, saat penelitian dilakukan.

Penelitian yang didanai Kementerian Dalam Negeri Jerman ini menyebut, jumlah mualaf meningkat empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya. "Justru di saat kebencian di Barat terhadap Islam makin memuncak," tulis laporan itu.
Mereka berislam atas kesadaran sendiri, dan sebagian besar mualaf adalah dari kalangan terpelajar. "Bila tiga tahun lalu kebanyakan converter adalah wanita yang berpindah agama karena pernikahan, maka sekarang banyak juga kaum pria dari kalangan kelas menengah Jerman yang beralih menjadi Muslim" tulis laporan itu.
imageHasil penelitian ini tak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Monika Wohlrab-Sahr, seorang sosiolog agama. Bedanya, dia tak hanya memotret fenomena ini di Jerman, tetapi juga Amerika Serikat. Di dua negara ini, Islam tumbuh dengan pesat justru setelah Tragedi 11 September.

Menurut pengamatan Wohlrab Sahr, para mualaf sebelum berislam umumnya mengalami "krisis personal" dan menemukan kedamaian justru dalam Islam, agama yang dicap banyak orang sebagai agama teroris. Motifasi lainnya adalah pencarian agama yang lebih "pas" buat dirinya. "Dia ingin beda dari yang lain," ujarnya.
Dalam opini Wohlrab-Sahr, meski Kristen juga menawarkan kedamaian batin, namun Islam lebih menarik sebagai jalan keluar dari keruwetan hidup. Hal ini ditunjang dengan media yang terus-menerus memperdebatkan tentang Muslim. "Islam menjadi makin menarik sebagai sebuah genuine alternative," tambah Wohlrab-Sahr.
Namun, alasan seseorang berislam tentu berbeda-beda, meski Wohlrab-Sahr bilang mirip. Salim Abdullah ia menolak menyebutkan nama aslinya menyatakan tertarik pada Islam karena ajaran ini paling jelas merinci tuntunan hidup bagi umatnya. Sedangkan Luhr yang selalu membawa sajadah di mobil Alfa Romeo GT terbarunya menyatakan, "Meski Islam dinilai mundur dari peradaban Barat, namun ajarannya tetap relevan hingga saat ini."

Islamic Fashion di Berlin
Bagaimana para Mualaf menyesuaikan diri dengan lingkungannya setelah menjadi Muslim? Dalam banyak hal, tak perlu disangkal, pasti terjadi benturan. Islam mempunyai banyak aturan yang bertentangan dengan budaya Barat. Sebut misalnya dalam penyikapan terhadap alkohol, seks bebas, dan ibadah yang dalam sehari sampai lima kali jumlahnya.
Namun Wohlrab-Sahr menyatakan tidak ada kendala yang berarti. "Tergantung bagaimana cara mereka menafsirkan ayat-ayat Alquran," ujarnya. Menurut dia, para mualaf ini tidak menunjukkan "kerepotan" harus beribadah lima kali sehari.
Beda dengan persepsinya bahwa busana untuk beribadah umat Islam sangat "ruwet" ia justru menemukan pada mualaf dengan gampang beribadah dengan memakai celana jins atau busana yang biasa mereka kenakan sehari-hari. "Bagi wanita, mereka hanya perlu menambahkannya dengan kaus kaki saja," ujarnya. Ia justru menyebut, Muslim yang dari lahir sudah berislam justru lebih liberal.

Di akhir laporannya, Ackmenn memotret fenomena seperti yang diceritakan Wohlrab-Sahr:
"Suatu siang di sebuah kantor pengacara di Hamburg. Nils Bergner, pria berusia 36 tahun, menjaga shalatnya sebanyak lima waktu, kendati kesibukan kantor menyita waktunya. Di kantor itu, Bergner satu ruangan dengan rekannya, seorang Muslim asal Turki bernama Ali Ozkan. Mereka kerap pergi shalat Jumat ke masjid terdekat, namun di luar hari Jumat, Bergner lebih sering shalat seorang diri. "Urusan pekerjaan selalu menyita waktu saya," ujar Ozkan, "Shalat pertama pukul 06.00, ...itu terlalu pagi bukan?"
Cerita Ackmenn tak berhenti sampai di sini. Malam harinya, ia mengundang dua nara sumber Muslimnya itu untuk makan malam di sebuah rumah makan. Bergner menolak rumah makan pertama karena "menyajikan terlalu banyak bahan haram."
Akhirnya mereka sepakat di sebuah rumah makan mentereng di pusat kota Berlin. Makanan utama telah habis dilahap, kemudian pelayan datang membawa desert berupa tiramisu. Bergner menolak. Alasannya, "Terima kasih. Dalam resepnya, memakai alkohol." Ozkan mulai tak sabar dengan ulah sahabatnya. "Ayolah, jangan terlalu serius," ujarnya sambil mengigit cake itu, "Makan saja, tidak apa-apa. Alkohol hanya digunakan sebagai aroma."
Bergner mendelik. Dia tetap membiarkan tiramisunya tak tersentuh, sampai mereka keluar dari rumah makan itu... n tri/del spiegel.(tri/RioL)
"Memang ada beberapa ajaran yang membuat penganutnya malah jadi ragu dengan kebenaran ajaran itu," ujar Mohammed Herzog, imam di Masjid Berlin yang sebelumnya adalah seorang pendeta. Ia sendiri pernah mengalami kebuntuan pemikiran, sampai akhirnya menemukan Islam tahun 1979.
Ia mengakui, jumlah mualaf di Jerman kini berlipat. Satu dasawarsa lalu, jumlah mualaf baru di Masjid Berlin paling hanya 10 orang pertahun. "Kini jumlahnya lebih dari dua kali lipatnya," ujar Herzog. Sebagian penganut baru Islam adalah orang-orang seperti Luhr, dan sebagian lagi adalah ateis.

Muhammed Herzog - Imam Mesjid Berlin
imageSebuah kajian mengenai kehidupan Muslim di Jerman menunjukkan fenomena pindah agama di kalangan masyakarat kelas menengah Jerman yang angkanya cukup mencengangkan. Kendati media "rajin" memberitakan tentang terorisme yang dikaitkan dengan Islam, kekerasan dalam rumah tangga Muslim, dan bom bunuh diri, namun sedikitnya 4.000 warga negara Jerman menjadi Muslim antara bulan Juli 2004 hingga Juni 2005, saat penelitian dilakukan.

Penelitian yang didanai Kementerian Dalam Negeri Jerman ini menyebut, jumlah mualaf meningkat empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya. "Justru di saat kebencian di Barat terhadap Islam makin memuncak," tulis laporan itu.
Mereka berislam atas kesadaran sendiri, dan sebagian besar mualaf adalah dari kalangan terpelajar. "Bila tiga tahun lalu kebanyakan converter adalah wanita yang berpindah agama karena pernikahan, maka sekarang banyak juga kaum pria dari kalangan kelas menengah Jerman yang beralih menjadi Muslim" tulis laporan itu.
imageHasil penelitian ini tak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Monika Wohlrab-Sahr, seorang sosiolog agama. Bedanya, dia tak hanya memotret fenomena ini di Jerman, tetapi juga Amerika Serikat. Di dua negara ini, Islam tumbuh dengan pesat justru setelah Tragedi 11 September.

Menurut pengamatan Wohlrab Sahr, para mualaf sebelum berislam umumnya mengalami "krisis personal" dan menemukan kedamaian justru dalam Islam, agama yang dicap banyak orang sebagai agama teroris. Motifasi lainnya adalah pencarian agama yang lebih "pas" buat dirinya. "Dia ingin beda dari yang lain," ujarnya.
Dalam opini Wohlrab-Sahr, meski Kristen juga menawarkan kedamaian batin, namun Islam lebih menarik sebagai jalan keluar dari keruwetan hidup. Hal ini ditunjang dengan media yang terus-menerus memperdebatkan tentang Muslim. "Islam menjadi makin menarik sebagai sebuah genuine alternative," tambah Wohlrab-Sahr.
Namun, alasan seseorang berislam tentu berbeda-beda, meski Wohlrab-Sahr bilang mirip. Salim Abdullah ia menolak menyebutkan nama aslinya menyatakan tertarik pada Islam karena ajaran ini paling jelas merinci tuntunan hidup bagi umatnya. Sedangkan Luhr yang selalu membawa sajadah di mobil Alfa Romeo GT terbarunya menyatakan, "Meski Islam dinilai mundur dari peradaban Barat, namun ajarannya tetap relevan hingga saat ini."

Islamic Fashion di Berlin
Bagaimana para Mualaf menyesuaikan diri dengan lingkungannya setelah menjadi Muslim? Dalam banyak hal, tak perlu disangkal, pasti terjadi benturan. Islam mempunyai banyak aturan yang bertentangan dengan budaya Barat. Sebut misalnya dalam penyikapan terhadap alkohol, seks bebas, dan ibadah yang dalam sehari sampai lima kali jumlahnya.
Namun Wohlrab-Sahr menyatakan tidak ada kendala yang berarti. "Tergantung bagaimana cara mereka menafsirkan ayat-ayat Alquran," ujarnya. Menurut dia, para mualaf ini tidak menunjukkan "kerepotan" harus beribadah lima kali sehari.
Beda dengan persepsinya bahwa busana untuk beribadah umat Islam sangat "ruwet" ia justru menemukan pada mualaf dengan gampang beribadah dengan memakai celana jins atau busana yang biasa mereka kenakan sehari-hari. "Bagi wanita, mereka hanya perlu menambahkannya dengan kaus kaki saja," ujarnya. Ia justru menyebut, Muslim yang dari lahir sudah berislam justru lebih liberal.

Di akhir laporannya, Ackmenn memotret fenomena seperti yang diceritakan Wohlrab-Sahr:
"Suatu siang di sebuah kantor pengacara di Hamburg. Nils Bergner, pria berusia 36 tahun, menjaga shalatnya sebanyak lima waktu, kendati kesibukan kantor menyita waktunya. Di kantor itu, Bergner satu ruangan dengan rekannya, seorang Muslim asal Turki bernama Ali Ozkan. Mereka kerap pergi shalat Jumat ke masjid terdekat, namun di luar hari Jumat, Bergner lebih sering shalat seorang diri. "Urusan pekerjaan selalu menyita waktu saya," ujar Ozkan, "Shalat pertama pukul 06.00, ...itu terlalu pagi bukan?"
Cerita Ackmenn tak berhenti sampai di sini. Malam harinya, ia mengundang dua nara sumber Muslimnya itu untuk makan malam di sebuah rumah makan. Bergner menolak rumah makan pertama karena "menyajikan terlalu banyak bahan haram."
Akhirnya mereka sepakat di sebuah rumah makan mentereng di pusat kota Berlin. Makanan utama telah habis dilahap, kemudian pelayan datang membawa desert berupa tiramisu. Bergner menolak. Alasannya, "Terima kasih. Dalam resepnya, memakai alkohol." Ozkan mulai tak sabar dengan ulah sahabatnya. "Ayolah, jangan terlalu serius," ujarnya sambil mengigit cake itu, "Makan saja, tidak apa-apa. Alkohol hanya digunakan sebagai aroma."
Bergner mendelik. Dia tetap membiarkan tiramisunya tak tersentuh, sampai mereka keluar dari rumah makan itu... n tri/del spiegel.(tri/RioL)

