-->

Kisah Manuel, Katholik dari Lahir, Lalu Kristen Hingga Akhirnya Menjadi Muslim (3)



Sekarang Manuel memperkenalkan diri sebagai Muhammad dan dia menunaikan salat lima kali sehari. Istrinya, Noura, dulu bernama Joana, mengenakan kerudung dipadukan dengan pakaian tradisional Tzotzil. “Tak ada masalah bagi kami meninggalkan sebagian tradisi para leluhur,” ujar Manuel. Sudah dua kali dia mendapat undangan dari Gerakan Murabitun untuk pergi ke Tanah Suci. Selama 64 tahun hidupnya, tak sekali pun Manuel melangkahkan kaki keluar dari Chiapas.

Pada mulanya, ajaran Islam, menurut Salvador Lopez, terasa asing bagi keyakinan mereka. Maklum saja, seumur-umur, tak ada seorang pun muslim yang dia dan teman-temannya kenal. Sebelum jadi mualaf, Salvador bekerja sebagai dukun penyembuh jika kampungnya disergap wabah.

“Pertama, anak perempuannya meninggal. Kemudian ibunya menyusul, diikuti anak laki-lakinya,” Salvador menuturkan kisahnya kepada Al-Jazeera.

Untuk mengusir penyakit, dia menggabungkan metode tradisional Maya dengan doa-doa. Setiap kali wabah datang, Salvador akan pergi ke gereja untuk berdoa bagi kesembuhan orang-orang di kampungnya, Chamula, di pinggiran Kota San Cristobal. “Tapi mereka semua mati…. Sepertinya doaku kurang mujarab.”

Dia sempat bergabung dengan kelompok perlawanan Zapatista dan beralih-alih agama.

Dalam agama, Salvador mencari jawaban dari rupa-rupa masalahnya, juga berharap mendapatkan kedamaian. “Pastor menyuruhku berhenti mabuk dan memberikan Kitab Injil. Tapi hatiku masih susah menerima,” kata Salvador.

Ketika Nafia datang ke Chiapas dan sebagian teman-temannya memeluk Islam, Salvador mulai belajar agama baru. Menurut Salvador, ada beberapa kemiripan tradisi Islam di Timur Tengah dengan kebiasaan suku Maya.

“Orang muslim makan bersama. Mereka menaruh makanan dalam piring besar di tengah-tengah dan semua orang makan dengan tangan telanjang. Kakekku dulu makan seperti itu,” kata Salvador.

Pengaruh budaya dari Barat membuat Salvador makan dengan sendok dan garpu. “Tapi sekarang aku kembali pada tradisi lama, makan bersama dalam satu piring besar.”

Hidupnya juga berubah. Salvador sekarang menjauhi minuman beralkohol dan berdagang di dekat masjid kecil di kampungnya. Keluarga jadi fokus hidupnya.

Sumber: Detikcom.
Back To Top