-->

Kisah Nyata Mengharukan Mualaf Tampan Menikahi Gadis Buta Dan Lumpuh (2)

“Tidak Herman. Aku belum layak seperti yang kamu bilang. Aku juga perlu banyak belajar mengenai agama. Tapi ada yang lebih pantas dariku, dia sahabatku. Memiliki keimanan yang begitu sempurna. Dia buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Pinanglah dia wahai sahabatku. Jika memang engkau tidak memandang fisik,” ucap Khadijah dengan tatapan serius.
Herman sempat terperangah mendengar permohonan sahabat cantiknya tersebut. Bahkan dia sempat berfikir tidak sanggup jika harus hidup bersama dengan wanita yang cacat meski memiliki keimanan yang sungguh.
“Demi aku Herman. Aku berani jamin dia akan bisa mendukung hari-harimu dalam mencari kebenaran ajaran Islam yang sesungguhnya,” ulang Khadijah.
“Baiklah. Jika engkau memaksa. Apalah artinya fisik sempurna jika tidak bisa mendampingi menuju jalan Allah yang benar,” ucap Herman mantap.
Seminggu berlalu, tanpa pernah bertemu, akhirnya Herman mempersunting gadis yang dimaksud sahabatnya tersebut. Setelah melakukan salat Tahajud, akhirnya dia mendapat kemantapan hati untuk menerima calon istrinya dengan penuh rasa syukur.
Memasuki Masjid Sirathal Mustaqiem, Herman menuju tempat mempelai wanitanya duduk menunggunya bersama penghulu. 
Dengan mantap dan penuh rasa syukur Herman mengikuti instruksi dari penghulu untuk mengucap ijab kabul. Hingga akhirnya seluruh tamu mengucapkan kata “sah” dan doa syukur yang menyatakan mereka sah sebagai sepasang suami istri.
“Assalamualaikum suamiku,” ucap istrinya dengan suara lembut dan merdunya yang tentu membuat Herman keheranan. 
Di tengah kebingungannya tersebut, Ansarullah sebagai camat setempat mengambil sambutan dan memberitahu yang sebenarnya kepada Herman.
“Dia adalah istrimu yang saleha Herman. Dia buta karena tidak bisa melihat hal yang dilarang agama. Dia tuli karena tidak mau mendengar berita buruk dan bohong. Dia bisu karena tidak pernah menceritakan keburukan orang dan mengucapkan hal dusta. Dan dia lumpuh. Karena tidak ingin berjalan ke tempat maksiat dan tidak benar,” jelas Ansarullah yang disambut tepuk tangan riuh seluruh tamu undangan.
Mendengar hal tersebut Herman dengan penuh rasa haru mengucap rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat yang begitu melimpah untuknya.
Dengan gemetar dia membuak kerudung istrinya. Dan benar, di hadapannya terlihat seorang wanita sempurna yang memiliki senyum yang begitu menawan dan aura yang begitu tulus dan lembut.
“Subahanallah. Kau begitu sempurna istriku,” ucap Herman mengecup jidat istrinya yang sholeha. 
Cerita di atas merupakan cerita dari film pendek yang akan ditayangkan di salah satu stasiun televisi nasional Minggu ini. Film tersebut disutradarai oleh pemainnya sendiri, yaitu Herman, dengan mengambil setting tempat di Kampung Tenun, Masjid Sirathal Mustaqiem.
“Jadi dari film tersebut, sutradara (Herman, Red) ingin memberi pesan bahwa mencari pasangan hidup jangan hanya melihat cantik luarnya saja. Tapi juga kecantikan hati, dan keimanannya,” tutup Ansarullah, yang juga mengambil bagian dalam film pendek tersebut. 
Sirathal Mustaqiem dan Kelurahan Tenun menjadi tempat pengambilan gambar karena kedua tempat ini dianggap memiliki nilai budaya serta sejarah. 
Back To Top